Artikel Seputar Komorbid dan Vaksinasi

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa virus corona penyebab Covid-19 masih terus menyebar dan angka orang yang terinfeksi penyakit ini terus meningkat baik di Indonesia maupun dunia.

Pandemi virus corona ini telah merenggut nyawa lebih dari 1 juta orang dan menginfeksi lebih dari 33 juta orang di seluruh dunia.

Selain merenggut banyak jiwa, Covid-19 ini juga membawa dampak bagi kehidupan manusia di dunia. Banyak aktivitas sehari-hari yang terganggu dengan adanya pandemi ini.

Virus corona ini bisa menyerang siapa saja dan mengakibatkan gejala atau tingkat keseriusan yang berbeda-beda.

Salah satu kelompok yang berisiko mengalami gejala serius apabila terpapar infeksi virus corona adalah mereka yang memiliki penyakit bawaan tertentu seperti komorbid.

Definisi Komorbid

Komorbiditas atau komorbid adalah penyakit atau kondisi yang muncul bersamaan pada individu. Artinya komorbid ini bisa diartikan sebagai penyakit penyerta.

Selain itu, komorbid juga terkadang dianggap sebagai diagnosis sekunder dan telah dikenali selama atau setelah pengobatan untuk diagnosis utama.

Walaupun terkadang ditemukan setelah diagnosis utama, akan tetapi komorbid ini sering muncul atau berkembang selama beberapa waktu.

Adapun contoh komorbid antara lain penyakit jantung, diabetes, tekanan darah tinggi (hipertensi), gangguan kejiwaan, atau penyalahgunaan zat tertentu.

Orang yang memiliki komorbid ini sangat rentan meningkatkan risiko kesehatan pada saat terinfeksi penyakit tertentu sehingga dapat menghambat penyembuhan. Komorbiditas ini juga bisa menjadi lebih parah atau lebih ringan. Contohnya, gagal jantung kongestif sebagai komorbid pada pasien rehabilitasi bisa ringan dan tidak akan mengganggu proses perawatan maupun tingkat aktivitas pasien.

Namun, sebaliknya bisa juga membuat semakin parah. Dimana pasien akan menjadi lemah dan tidak mampu melakukan hampir semua aktivitasnya. Bukan hanya itu, perawatan rehabilitasi menjadi lebih rumit, serta biaya perawatan menjadi mahal.

Penderita Penyakit Komorbid Dilarang Terima Vaksin Sinovac

Berdasarkan rekomendasi Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), seseorang dengan penyakit komorbid (penyakit penyerta) ini tidak bisa menerima vaksin Sinovac :

  • Pasien yang mempunyai masalah infeksi akut
  • Orang dengan autoimun
  • Orang dengan gangguan ginjal kronis (baik yang sudah hemodialisis maupun belum)
  • Orang dengan transpalantasi ginjal
  • Sindrom nefrotik yang memiliki masalah imunosupresan kortikosteroid, gagal jantung, penyakit jantung koroner, hipertensi (sedang menunggu hasil uji klinis di Bandung)
  • Penyakit hipertiroid/hipotiroid akibat autoimun, pasien kelainan darah yang membutuhkan terapi jangka panjang. Seperti leukemia, ITP, anemia hemolitik autoimun, sindrom hiper IgE. Sementara penderita HIV, diabates melitus, dan penyakit paru (tuberkolosis, asma) bisa divaksin.

Vaksin AstraZeneca Aman Untuk Komorbid dan Lansia

Sementara vaksin AstraZeneca diklaim sangat aman untuk komorbid dan lansia. Vaksin ini dinilai memiliki efikasi yang sangat tinggi terhadap orang dengan penyakit penyerta (komorbid) dan lanjut usia.

Dalam hal ini, Juru Bicara Vaksinasi Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Siti Nadia Tarmizi mengonfirmasi hal tersebut dalam acara daring, Jumat (11/6/2021)

“Kalau AstraZeneca itu, efikasinya untuk yang punya penyakit komorbid sangat tinggi, pada usia lanjt juga sangat tinggi,” kata Nadia.

Maka dari itu, ia pun meminta kepada masyarakat untuk tidak pilih-pilih vaksin Covid-19. Lantaran, menurutnya seluruh jenis vaksin yang ada di Indonesia sekarang ini sudah dijamin keamanannya.

Selain itu, Nadia juga menegaskan, bahwa vaksin AstraZeneca juga telah dijamin keamannya untuk usia 18 tahun ke atas, sehingga masyarakat tidak usah khawatir lagi dengan beberapa kasus pemberhentiannya pada usia non-lansia.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *